Menjadi Pemilih (di Era Digital)

Ini bukan soal pemilu atau politis ya.

Jadi ceritanya saya baru selesai berlibur di tempat yang mengharuskan diri fokus kepada momen yang berlangsung. Jadi boro-boro ngelirik gadget ya. Terlalu menarik bila dilewatkan.

Ketika kembali ke peradaban dan membuka gadget, rasanya seperti di telan “air bah” pesan dari berbagai tipe medsos dan messenger. Dan saya pun “tenggelam”. Alias berat untuk muncul kembali ke permukaan, ke dunia nyata. Belum pekerjaan-pekerjaan yang muncul. Hahaha.

Hal termashyur yang disebut “penyakit hari Senin” tidak ada apa-apanya dibanding ini. Mungkin ini sindroma warga milennial.

Ketika sudah nyaman dengan kondisi tidak diburu-buru akhirnya dipecut lagi untuk bergegas.

Terkadang manusia bisa saling memberi tekanan pada sesamanya tanpa sadar, di jaman serba instan. Dan semakin banyak pengaruh dari manusia semakin besar pula tekanan itu. Di satu sisi itu membuat kita terpicu untuk maju, di sisi lain benar-benar mengurangi nilai kebahagiaan.

Biasanya itu akan bertambah bila kita hidup di kota besar. Makanya banyak orang yang produktif, bekerja bagus tapi berada dalam tekanan, nilai psikotesnya suka kalah dengan mereka yang sering absen kerja, namun hidup lebih santai karena tinggal di daerah. Saya pribadi jarang percaya dengan nilai-nilai yang demikian, karena emosi adalah sesuatu yang sifatnya sangat fluktuatif.

Saya juga sudah lama memutuskan sangat hati-hati dalam bergaul dan memilih komunitas. Kadang atas nama menjalin silaturahmi saya memang terpaksa betgabung dengan grup A, B, C di instant messenger. Untungnya saya masih bisa selektif dalam membuka pesan. Jadi saya hanya membuka yang sekiranya sering ada pengumuman penting atau isinya menghibur. Sisanya jarang saya ikuti. Tidak mungkin juga.

Namun ada, lho, orang yang benar-benar hanya ikut grup yang bikin senang saja. Walaupun itu grup keluarga sekalipun, kalau bikin stress ya dia cabut. Berhubung saya tidak mungkin sampai demikian, yang bisa saya lakukan adalah membiarkan messages di grup-grup tertentu menggemuk, setelah itu baru saya potong kambingnya… eh hapus semua chatnya. Karena yang penting disitu kan hanya kehadiran saya saja. Bukan apakah saya bersuara atau membaca semua.

Saya menyimpulkan, yang perlu di kontrol sebetulnya hanya rasa kepo saya saja. Kepo untuk mengikuti semua informasi..

Awalnya nggak mudah, menahan rasa kepo itu, karena kita sudah biasa hidup dibanjiri informasi. Dan ada rasa takut kelewatan info terbaru (Fear of Missing Out). Tapi apakah kita perlu tahu SEMUA informasi dalam hidup? Kayaknya tiada pun masih bisa bernafas ya..

Saya membandingkannya dengan kehidupan orang-orang di pedalaman dan desa-desa. Mereka yang berumur panjang dan sehat hingga tua. Tidak ada gadget. Tidak ada informasi cepat di dapat. Waktu seolah-olah berhenti. Kalau mereka tidak masuk RS karena stress sinyal hilang, kenapa kita juga nggak?

Komunikasi untuk urusan pekerjaan dan keluarga inti saja yang diutamakan. Lagipula kita punya berapa pekerjaan sih dalam satu kehidupan? Kalau kamu punya banyak banget, saya rasa sudah waktunya mulai berpikir untuk mengupah seorang sekretaris ya.

Ada juga orang yang berkeyakinan bahwa hidup adalah sebuah misi. Untuk memperbaiki umat manusia. Makanya setiap hari rajin memforward banyak hal atau mengajak melakukan ini itu.

Pertanyaannya bagaimana seseorang menyelesaikan misi bila penilaianmu sendiri yang paling adil sudah menjadi terganggu, serba emosional dan kebat kebit diburu-buru karena banyak alami tekanan?

Pada akhirnya fokus manusia itu sangat terbatas. Demikian juga waktunya. Bila dipaksakan maka yang kena adalah emosi. Emosi adalah bola bilyard pertama yang bisa terpental kemana-mana. Ya kesehatan, suasana dalam keluarga, hubungan sesama,dll. Tercapaikah prioritas kita dalam hidup?

Menjadi pemilih di jaman milennial itu wajib. Karena itu juga akan menentukan pilihan kebahagiaan kita. Akan berbentuk seperti apa.

Bagaimana denganmu? Berapa banyak orang atau komunitas yang kamu biarkan ada untuk mempengaruhimu?

Gambar diambil dari dokumentasi pribadi

Advertisements

3 thoughts on “Menjadi Pemilih (di Era Digital)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.