Minimalis VS Maksimalis

hoard

Apakah kamu seorang yang suka dengan kerapian lalu tinggal bersama dengan orang yang sebaliknya? Atau kamu justru orang yang terakhir ini?

Salah seorang kawan saya yang sudah berusia lanjut (ya saya punya banyak kawan dari berbagai range usia) pernah bilang kepada kawannya yang lain, kebetulan anak si kawan ini adalah seorang laki-laki yang super rapi dan ketat : mantumu bisa jadi seorang perempuan yang “santai” dalam merapikan”

Sebuah kata halus dari serampangan barangkali, hahaha….

Seperti magnet, harus ada kutub utara dan selatan. Terkadang kita tidak bisa memilih bagaimana dan dengan siapa kita akan tinggal. Ini bukan soal rumah tangga saja ya.

Saya tidak bisa bilang diri ini orang yang rapi jali dan perfeksionis. Hasil penataan saya juga selama ini lebih untuk memuaskan diri sendiri. Tapi saya senang dengan tampilan kerapian, mungkin kalau terdampar di pulau terpencil, hal yang pertama saya lakukan adalah menata. Hahaha..Jadi saya sebut saja kebiasaan ini : “senang merapikan dalam taraf yang wajar” Tentu saja ada musimnya terjadi turbulensi mood, apalagi saya memiliki anak-anak kecil. Dan, oh, percayalah, anak kecil itu sangat senang bereksplorasi dan menyebarkan harta karun!

Sebelum tertarik dengan minimalis, saya sempat mencicipi rasanya jadi maksimalis dan pernah juga punya pengalaman dengan berbagai kediaman para maksimalis. Yaitu tempat mereka yang senang sekali bila tempat tinggalnya ramai oleh berbagai barang. Dan barang-barang itu terpencar-pencar seperti kerikil-kerikil yang ceria.

Beberapa dari para maksimalis itu bisa dikategorikan sebagai hoarder. Saya belum mengamati apakah beberapa diantara perbuatan mereka termasuk compulsive hoarding, karena semakin lama memang semakin banyak barang menggunung hingga bisa menghilangkan keberadaan sebuah garasi.

Bila kamu hidup dengan orang yang demikian berlawanan, sementara kamu seorang yang suka dengan gaya minimalis, bisa dibayangkan apa kontradiksi yang hadir pada dirimu?

Mungkin mulai hadir sebuah bom waktu khayalan yang siap meledak saat kamu membayangkan bagaimana rasa puasnya bila berhasil menghilangkan separuh dari isi rumah itu! Tentu saja kita tidak bisa melakukannya tanpa disebut sebagai kriminil ya hahaha..

Tapi sebagai catatan, tidak semua maksimalis itu berantakan ya, karena ada juga yang teratur dan pandai menata. Tentu saja energi yang dibutuhkan untuk membersihkan rumah dan menjaga kerapihannya butuh effort yang lebih besar. Itu saja bedanya.

pixnio

Contoh kediaman maksimalis yang rapi dan menarik

Jadi bagaimana cara untuk berdamai dengan para hoarder atau maksimalis yang tidak teratur?

1. Sadar dulu teritori masing-masing.

Ini adalah sebuah aturan baku yang tidak bisa dilanggar. Mana punyaku dan mana punyamu.

2. Buat kesepakatan pada teritori yang netral

Bahwa di wilayah tersebut misalkan harus rapi atau sedikit barang. Jadi bila ada barang, bisa dilihat itu punya siapa.

3. Beri contoh

Tidak ada nasehat yang lebih baik daripada contoh yang bisa dilihat. Bila teritori kita tampak rapi dan nyaman, tentu orang lain akan merasa tertarik. Bahkan bukan tidak mungkin mencontoh. Bila dia tidak tertarik, mungkin memang itu (belum) tidak cocok untuknya.

4. Saran bila diminta

Khusus untuk hoarder, terkadang permasalahannya lebih dalam daripada sekedar menumpuk barang, bahkan bisa klinis. Jadi bila yang satu itu belum diselesaikan jangan berharap akan ada konsistensi lebih lanjut. Tapi bila si peminta saran memang belum tahu caranya karena murni dia memang tidak pernah belajar, harapan untuk berubah jauh lebih besar.

Semua terjadi selangkah demi langkah, karena setiap manusia berbeda. Jangan terlalu berpikiran buruk pada mereka yang berantakan. Kebanyakan orang cerdas itu berantakan, contohnya Albert Einstein. Asal jangan jadikan ciri kejeniusan sebagai alasan untuk hidup semrawut saja ya hahaha..Itu butuh di tes dulu kalii..

Bagaimana menurutmu?

signature.png

Gambar : wikipedia.com. pixnio.com

Advertisements

4 thoughts on “Minimalis VS Maksimalis

  1. Emaknya Benjamin br. Silaen says:

    Hoarder ini bisa jadi penyakit juga kali ya mbak, kalau lihat foto pertama, saya jadi ingat sedikitnya 2x pernah nonton berita tentang hoarder ini. Satu komplain dari tetangga yg terganggu krn krn si hoarder ngumpulin tetek bengek sampai ke kebunnya, segala macem barang sampai matras bekas ada dikebun. Kasusnya sampai ke polisi krn tetangga merasa terganggu dg pemandangan sampah di rumah hoarder. Akhirnya si hoarder kalah di sidang dan harus membayar sekian ribu euro biaya petugas kebersihan membuang sampah dirumah si hoarder.
    Kisah kedua, hoarder saat pindah kontrakan meninggalkan rumahnya dalam keadaan rumah hancur berantakan spt kandang hewan ternak ga keurus. Segala macam barang (sampah) memenuhi rumah, persis gambar pertama tuh. Saya lupa sih apakah kasus ini disidangkan atau tidak, hanya ingat si pemilik rumah kontrakan yg nangisi keadaan rumah dia.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.