Fotografer Minimalis

kuning-1.jpgBeberapa waktu lalu ada pembicaraan menarik seputar fotografi.

Jadi ada seorang rekan yang baru beli kamera baru. Dan mulai terjadi diskusi atas fitur-fitur barunya yang keren. Kameranya full frame, upgrade dari sistem APS-C.

Bagi yang belum mengerti, singkatnya untuk full frame sensornya lebih besar dari APS-C, jadi bisa dipahami, ya mengapa harganya jadi lebih mahal.

Banyak yang ngiler, pengin nabung untuk beli juga atau beli seken. Itu biasa terjadi.

Saya jadi teringat percakapan-percakapan sejenis yang pernah ada dan pengamatan selama ini. Sebetulnya kameranya mau pakai yang manapun kalau orangnya memang kreatif hasilnya, ya, bagus-bagus aja. Pernah tahu juga juara lomba foto yang kameranya kecil dan APS-C. Atau misal, seorang fotografer yang terbukti punya segambreng foto keren ternyata kamera yang dipakai bukan dari brand yang kelas wah. Malah cenderung mirip punya turis-turis yang biasa jalan-jalan.

Dunia fotografi dengan teknologi digitalnya sedang berkembang pesat. Apa yang hari ini keren besoknya sudah nggak up to date. Pemain-pemain lama dalam brand fotografi seperti C dan N makin mewaspadai berbagai pemain yang bermunculan. Para pemain ini main di kamera yang praktis di jinjing seperti mirrorless dan smartphone. Iya, kualitas gambar smartphone sekarang sudah sangat mumpuni. Makanya kamera poket sudah jarang dilirik.

Jadi kalau saya pikir-pikir, kecuali seorang profesional, sebenarnya nggak perlu-perlu banget, ya, mengejar kamera dengan sensor besar yang harganya bisa puluhan juta (kecuali memang beruntung dapat seken atau harga jauh turun). Banyak hasil percobaan yang membuktikan perbedaan hasil gambar kadang sedemikian tipis.

Harga peralatan elektronik terutama digital bisa turun dengan cepat di dua atau empat tahun lagi. Lebih baik berinvestasi di benda yang sifatnya non elektronik atau pendamping seperti lensa, tripod, flash yang bagus. Ya, namanya kaca, rangka, sumber cahaya, kan dari dulu gitu-gitu aja, paling ada penambahan seperti image stabilizer, autofocus, sama bentuk lipatan, kepraktisan, dsb.

Itu kalau mau serius, ya.

Untuk yang sekedar hobi, saya memperhatikan fotografer minimalis jaman now malah sudah banyak yang mengenyahkan berbagai keribetan diatas. Contoh beberapa fotografer pemain lama, mereka sudah berpendapat bahwa membawa kamera yang kokoh tapi “gendut” rasanya sudah seperti membawa jangkar kapal kemana-mana. Jadi untuk foto dengan tujuan bersenang-senang saja, mereka kalau nggak bawa kamera mirrorless, bisa lebih ekstrim cukup pakai smartphone (tentunya yang bisa moto bagus). Travel light, gitu. Apalagi bila usia bertambah, ngapain juga bawa beban berat, nambah encok saja. Penginnya kan senang-senang bisa lincah kesana kemari.

wiki50mm

Gambar : wikimedia.com

Lensa yang dibawa juga umumnya sederhana, kalau nggak 35 mm ya 50 mm, lensa fix (yang nggak pakai zoom in zoom out}. Karena ringan, cepat, sesuai pandang mata manusia, dan kualitas gambar yang dihasilkan lebih bagus. Selain itu karena pilihan pandangan terbatas, malah membuat fokus serta jadi tantangan lebih dalam berkreasi. Jadi zoom in zoom out nya ya pakai kaki. Tentu saja ada juga yang pakai lensa 24-70 mm, tapi biasanya nggak jauh-jauh dari range itu.

playbubble.jpgBelakangan ini saya mencoba membiasakan bahwa apapun yang terjadi harus pakai lensa fix yang nifty fifty itu (murmer tapi keren). Efeknya bagus, sih untuk saya, ya. Jadi lebih….gerak hahaha. Dan benar juga, fokus saya lebih ke sudut pandang dengan obyek ketimbang mikir mau pakai zoom yang bagaimana. Diatas semua itu, ya ampun, ringaaaan…

Walau pernah ada kejadian waktu minta difotoin bersama rombongan segambreng, si fotografer yang memakai kamera saya rada sebel juga, karena dia harus ekstra tenaga buat mundur-mundur sampai mentok tembok.

“Mbak, kenapa lensanya ini sih??” gerutunya.

Padahal punya yang lain cukup dengan smartphone bisa di zoom in zoom out. Saya nyengir saja, sembari minta maaf karena merepotkan. Memang tidak semua fotografer nyaman dengan lensa fix.

Semua kembali ke selera dan prioritas. Bagi saya mengurangi beban keribetan dan bisa fokus itu sangat menyenangkan. Bukan berarti saya anti bawa yang berat bila suatu waktu benar-benar memerlukannya. Tapi sebelum itu terjadi, ‘kan lebih enak menyimpan tenaga dan pikiran untuk hal-hal yang jauh lebih penting?

Apakah selama memfoto kamu suka yang praktis-praktis atau perlu usaha lebih?

signature.png

**Semua gambar, kecuali yang disebutkan sumbernya, diambil dari dokumentasi pribadi

Advertisements

3 thoughts on “Fotografer Minimalis

  1. Tiara says:

    Saya setuju sih kamera mau semahal apapun kalo usernya ga kreatif ya gitu2 aja hasilnya tp wlpn cuma pakai smartphone kalau memang usernya kreatif pasti kelihatan pro hasilnya…

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.