Minimalis dan Budaya

teh

Ada pendapat bahwa menjadi minimalist itu tidak mudah di Indonesia. Ya, entah karena kulturnya berbeda dan belum jadi trend saja.

Nggak, saya lebih cenderung pada pendapat beda kultur budaya, ya.

Dahulu, saya pernah menjadikan pengaruh kultur ini sebagai bagian dari penelitian (sudah lama sekali, sih, belum update lagi).

Singkat kata, orang Indonesia umumnya cenderung suka yang ramai-ramai. Sedikit heboh, termasuk dalam hal warna. Iklan-iklan yang dibuat perusahaan besar selalu ada unsur “kebersamaan”, “sama-sama”….

Kemudian ada lagi pengaruh trend melihat ke orang lain, opini dari mulut ke mulut cukup besar. Misalnya kejadian di kampung, tetangga jadi perhatian karena pakai sesuatu yang lagi happening. Tinggal soal waktu yang lain pada ikut. Makanya majalah mode tidak menjadi patokan pembeli dalam pembelian baju. Yang jadi contoh malah public figure (bisa jadi dia yang doyan baca majalah). Nah, mudah ditebak kan kenapa influencer di dunia media sosial itu laris manis?

bisik

Menurut influencer A, B, C, kata orang, kata tetangga, kata grup sebelah, kata suami saya, kata istri saya (bahkan bila ternyata si istri sebetulnya enggak ngerti apa-apa)

Ada perkecualian dengan orang Indonesia yang sudah lama terpapar kultur lain, ya, misal, pernah tinggal di negara asing. Atau memang mereka yang memiliki jiwa seni dan tertarik pada hal-hal baru.

Tetapi semua ini memang menarik, bagaimana pengaruh kondisi geografis dan demografis. Manusia jadi cenderung bereaksi terhadap warna berdasarkan mood yang hadir ketika hidup di sebuah negara. Misalnya, orang negara 4 musim di Eropa umumnya menyukai warna-warna kalem, itu juga berubah sesuai musim, tetap tidak ada warna yang sampai heboh gonjreng begitu, perannya hanya sebagai aksen. Itu juga tergantung iklim negaranya. Mungkin pernah melihat trend berpakaian Inggris dan negara-negara Balkan beda karena mood berdasarkan kondisi cuaca juga unik, sendiri-sendiri.

Untuk Asia pengaruh minimalis juga dipengaruhi budaya. Misal, Jepang dengan tradisi Zen yang salah satu unsurnya adalah menahan diri, tidak berlebih-lebihan, meditasi, dsb.

turis

Tentu saja untuk budaya pop kultur, karena didominasi anak muda, kita akan menemukan sedikit kehebohan warna. Namun saya melihat padu padan fesyen anak muda Jepang sangat bagus. Memang sedikit cerah ceria tapi apa ya….pas, gitu. Tidak tabrak sana sini alias semua unsur dimasukkan. Itu yang sering saya lihat pada pakaian turis-turis mudanya. Membedakan turis Jepang dengan turis Asia lain, itu gampang banget….

Dan saya banyak mendapatkan cerita bahwa menghasilkan seni yang mengandung unsur minimalis itu tidak mudah. Padahal kita, penikmat melihatnya seperti gampang. Karena tidak banyak yang rumit. Sederhana tapi…eh, kok, bagus? Kira-kira begitu. Ya, soalnya memang harus bermain di berbagai unsur seperti garis, pola, warna, dan unsur-unsur yang mewakili cerita.

Saya sendiri pernah mencoba walau memang masih taraf ecek-ecek…dari fotografi sampai lukisan. Masing-masing ada kendalanya. Untuk fotografi sulit menemukan spot yang sepi (maklum kota). Untuk lukisan, pikirannya harus benar-benar fokus dulu, ini mau dibawa kemana? Godaan untuk “nambahin sesuatu” gede banget wkwk…

Iya, doyan nambahin banyak hal sampai akhirnya serame kliping. Kuncinya sama saja mau soal gaya hidup atau seni, ada sesuatu yang berlebihan perlu ditahan. Kayak hawa nafsu kali, ya…hahahaha. Akibatnya jadi nggak fokus. Jadi semua itu sebetulnya timbal balik, karena minimalis seseorang bisa jadi fokus, atau karena fokus, maka seseorang bisa menghasilkan sesuatu yang minimalis.

Hal lain yang menyebabkan gaya hidup minimalis belum dianut di Indonesia mungkin karena tempat tinggal kosong atau kurang barang identik dengan ketidak mampuan membeli alias qismin (miskin). Padahal kan belum tentu juga, ya. Orang kaya lama baju mereka bisa jadi tidak sampai memenuhi lemari, tapi rata-rata barang branded semua, itu ceritanya bagaimana?

Segala perbedaan dan karakter hasil dari budaya, sebetulnya tidak ada yang salah, semua tetap menjadikan diri seseorang unik. Asalkan diambil sisi baiknya dan tidak berkembang menjadi sesuatu yang terlampau ekstrim.

Bagaimana menurutmu, punya pengalaman yang berhubungan dengan hal diatas?

signature.png

Gambar : pixnio.com, flickr.com, pixabay.com

Advertisements

2 thoughts on “Minimalis dan Budaya

  1. Ahaidar Almajasari says:

    Mungkin karena sayang sama barang ya, jadinya disimpen terus meskipun tidak tahu mau dipake lagi atau ga.
    Buyut saya dulu malah sampai nyimpen gelas2 aqua yg pernah dipake. Mungkin pada jamannya dulu, mendapatkan barang itu susah, jadi begitu punya disimpen terus baik2. Mentalitas ini terus menurun ke anak2nya, ya kita2 ini.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.