The Concorde Fallacy

balon

Saya memiliki kenalan yang membeli suatu barang dengan alasan akan memanfaatkannya untuk sebuah kegiatan. Awalnya saat membeli memang tidak seberapa mahal, namun seiring dengan berjalannya waktu, dia merasa ada hal-hal yang tidak lengkap pada barang tersebut. Perasaan ini cukup mengganggunya, sehingga ia melakukan berbagai cara untuk “melengkapi” kekurangan itu.

Tetapi perasaan mengganggu itu tetap hadir. Kenalan saya mulai tidak merasa enjoy lagi melakukan kegiatan. Nah, lho. Kenapa nggak dihentikan saja? Dia tampaknya merasa sayang, karena sudah menghabiskan uang dan waktu untuk melakukan semuanya. Dan ia pun masih terus melanjutkan lingkaran yang tidak ada habis-habisnya itu.

Gambaran diatas kurang lebih mewakili apa yang disebut sebagai the Concorde Fallacy atau Kesesatan Concorde.

Mungkin ada yang belum pernah mendengar istilah itu, apalagi jaman now. Dahulu kala pemerintah Perancis-Inggris berinvestasi pada pembuatan pesawat superjet Concorde yang memiliki kecepatan melebihi kecepatan suara. Biayanya sekitar 4 bilyun poundsterling. Pembuatannya sendiri merupakan kesuksesan, tapi tidak secara komersial (rugi 10 bilyun poundsterling). Berlangsung selama bertahun-tahun sebelum akhirnya dihentikan karena biaya perawatan semakin tinggi dan menurunnya jumlah penumpang gara-gara peristiwa 11 September.

concordefallacy

Itulah the Concorde Fallacy, sedemikian besarnya biaya serta usaha yang selama ini diinvestasikan, sehingga banyak pihak yang merasa sayang untuk menghentikan sebuah proyek yang jelas-jelas akan merugi di tahun-tahun ke depan.

Hal sama terjadi juga pada kenalan saya, walaupun ya…dibanding proyek Concorde biaya yang dikeluarkan mungkin sekecil air mata bakteri (kalau mereka punya).

The Concorde Fallacy disinggung oleh Fumio Sasaki (Goodbye, things- on minimalist living) saat kita merasa sayang melepaskan sesuatu yang jelas-jelas hanya akan menghabiskan biaya, tenaga, dan waktu. Ibaratnya : proyek rugi. Untuk ukuran barang dalam rumah : mubazir dan menuh-menuhin ruangan saja. Marie Kondo (The Life Changing Magic of Tidying Up) menyebutnya sebagai barang-barang yang tidak membawa spark joy lagi. Kita mempertahankan mereka “…hanya karena titik-titik (silahkan isi sendiri)”.

Mengapa kita melanjutkan sesuatu yang tidak membawa keuntungan dan kegembiraan? Apa rantai tidak terlihat yang mengikat kita pada mereka? Berharap suatu hari semua akan membaik dan membawa keuntungan. Pada kenyataannya suatu hari itu tidak pernah datang.

Kadang-kadang manusia senang menipu menghibur diri sendiri. Ini bisa terjadi pada siapapun. Termasuk saya.

Menurut saya, sebabnya adalah karena kita tidak mau mengakui telah melakukan kesalahan (dalam berinvestasi dan menentukan pilihan). Kita belum bisa memaafkan diri sendiri bila mengakuinya!

Padahal itu suatu hal wajar dalam kehidupan. Everybody makes mistakes. Langkah pertama yang perlu dilakukan agar berani melepaskan suatu Concorde Fallacy adalah memaafkan diri sendiri. Setelah itu melepaskan dengan rasa terima kasih. Kalau Marie Kondo menyebutnya berterima kasih karena telah mengajari kita tentang apa-apa yang tidak kita butuhkan.

Apakah kamu pernah mengalami the Concorde Fallacy? Apa yang kamu lakukan?

signature.png

Gambar : pexels.com, officefinance.com, esmemes.com

Advertisements

2 thoughts on “The Concorde Fallacy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.