Fotografi Minimalis

Ngomongin fotografi, yuk. Kebetulan saya suka moto-moto. Masih ala-ala amatir. Jangan dibandingkanlah dengan mereka yang gambar-gambar instagramnya bikin meleleh.

Sejarah pertama saya foto dengan DSLR ngembat minjem kamera punya hubby. Di sebuah trip, kebetulan ada teman yang jago moto juga ikut. Dia setelinlah itu kamera entry level agar memakai mode manual. Saya pun jeprat-jepret…. WAW.. kok, hasilnya jauh lebih keren dibanding pakai mode otomatis?

Saat itu saya belum ngeh benar bagaimana cara menghasilkan itu.

Kamera itu nganggur cukup lama karena empunya sibuk. Saya juga nggak merawatnya (lha, iya bukan kamera saya, hahaha).

Sampai suatu hari saya sedang dalam kondisi gloomy, mulai iseng buka-buka kutak-katik kamera tua (sudah lebih dari 8 tahun). Saya pikir mubazir nggak dipakai. Jadi saya mulai membersihkannya dan belajar berbagai hal tentang fotografi dari buku dan sana sini.

Mula-mula memang gamang berkunang-kunang. Habis biasanya tinggal jepret, ini harus memikirkan apperture, speed, ISO dan segitiga-segitiganya. Ngapalinnya-oh-ribet. Tapi seiring waktu, mulai terbiasa dan sudah bisa nggak pakai mode otomatis lagi. Yay! *pencapaian.com*

Sekarang kamera sudah punya sendiri. Jadi bebaslah saya bereksperimen. Tapi, sesuai tema blog ini, saya mungkin akan ebih banyak memperlihatkan karya-karya yang cenderung bertema minimalis.

Kok cenderung? Karena saya masih belajar menuju kesana hahaha…

Nah. Apa itu fotografi minimalis?

Kita kutip definisi seni minimalis menurut Simon Bray :

Minimalism is a style employed by many 20th Century artists, using a minimum amount of components such as color, shape, line and texture. Within the art world it is considered an extremely subjective concept, leaving interpretation and meaning up to the viewers perception of the work.

Intinya, komponen-komponen yang ada di dalam gambar seperti warna, garis, bentuk, dan tekstur seminimim mungki

Kalau belum bisa mendapat gambaran dari definisinya, bisa melihat contoh-contoh foto disini.

Pertama kali lihat gambar ini di bandara Soeta langsung jatuh hati karena imoet banget. Jadi saya abadikan saja. Semoga awet dan terpelihara selalu bandara baru kita. Banyak obyek interior dan arsitektur bagus, masih baru pula.

Untuk mendapat gambar ini harus di zoom habis-habisan karena pohonnya tinggi, bok! Tapi saya suka dengan aura yang dihasilkan. Inginnya sih seperti lukisan-lukisan ukiyo-e Jepang tapi apa daya..nggak ada burung yang hinggap…hahaha

Ini yang merupakan favorit saat ini. Motonya sampai tengadah-ngadah karena roof ini lumayan tinggi juga. Semoga nggak di kira orang aneh atau ada yang ikutan nengok keatas disangka ada Spiderman manjat. Saya ingin memberi kesan balance, empty space tapi juga terstruktur.

Oya. Foto pertama yang paling atas memang tidak minimalis banget tapi saya suka kesan rame kosongnya yang di dominasi warna. Untuk lebih lengkapnya bisa follow gallery saya.

Kamu suka moto juga? Share dong…

signature.png

Advertisements

2 thoughts on “Fotografi Minimalis

  1. kutukamus says:

    Suka foto-fotonya, terutama yang pertama. ‘Sepi dalam keramaian (warna)’. Rangka-rangka besinya (putih-diagonal) seperti menegaskan bahwa angin pun bebas lewat (saking kosongnya).
    PS: cuma merasa agak aneh dengan bentuk hitam/gelap di ujung atas anak tangga (orang duduk?)

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.