Jalan Menuju Minimalis

Liburan hampir selesai. Selama libur kemarin saya banyak menghabiskan waktu merapikan dan menyederhanakan ruangan tempat tinggal.

Banyak metode yang saya adaptasi.

Dimulai dari :

Marie Kondo

Siapa yang belum familiar dengan pencipta metode KonMari dari Jepang yang terkenal ini? Bukunya sudah diterbitkan di mancanegara. Dia rajin mengadakan pelatihan dan menginspirasi banyak orang.

Fumio Sasaki

Kali ini pria dari Jepang juga. Beda dengan KonMari, metodenya sedikit lebih ekstrim menuju minimalisme. Walau demikian banyak juga yang merasa cocok. Saya juga menyukai beberapa cara yang dia terapkan.

Margareta Magnusson

Dari Swedia, terkenal dengan metode Death Cleaning. Nenek dari beberapa cucu ini sudah cukup berpengalaman dalam metode bebersih ala Swedia.

Dominique Loreau

Penulis buku terkenal L’art de la simplicite. Asal Perancis, ia bertahun-tahun tinggal di Jepang dan menyelami akar dari budaya minimalis timur serta Zen.

Ohya. Saya juga mengikuti akun ini secara rutin. Sangat bermanfaat dan membuka mata. Yaitu,

theminimalists

Duo pengusung gaya hidup minimalis asal Amerika. Menulis buku dan menyebarkan gagasan dengan jadwal rutin.

Pemahaman dan prakteknya

Inti dan filosofi pengajaran mereka mirip-miriplah, menurut saya. Metodenya saja yang bervariasi. Bahwa makin banyak yang kita miliki akan makin rumit membenahi. Jadi discarding dan decluttering itu penting rutin dilakukan.

Saya akui pada prakteknya, beberapa kali mengalami kesulitan. Apalagi saat semua itu berlangsung, saya harus menyesuaikan diri juga dengan perkembangan anak-anak yang masih kecil, senang bereksplorasi, dan sangat energik. Sehingga pernah satu dua kali saya mengalami masa jeda. Itu berlangsung cukup lama, sampai akhirnya tersadar kembali. Ini bukan sesuatu yang bisa berhenti ditengah jalan tanpa kita terancam back to square one. Semakin ditunda progressnya semakin mundur.

Menyederhanakan bukan melulu untuk kehidupan dunia nyata. Saya merasa ada urgensi juga untuk menyederhanakan aktivitas dunia maya. Terutama dengan maraknya fenomena FOBO (Fear of Burning Out – kelelahan karena banyaknya informasi) dan Phubbing (sibuk dengan gadgetnya sendiri). Semakin terasa apa saja hal-hal yang dahulunya membuat gembira namun sekarang tidak lagi. Bahkan membuat hidup semakin berat. Hal itu membuat saya perlu menentukan selalu mana prioritas yang utama. List kesibukan semakin banyak dikurangi dan disederhanakan, terutama aktivitas di sosial media.

Tidak masalah apakah saya nanti akan berakhir menjadi minimalist seperti Fumio Sasaki atau tidak (oh ya, dia punya 5 baju saja). Setidaknya memiliki kemajuan lebih baik dari hari sebelumnya, sudah cukup. Yang penting bagaimana saya akan sampai di titik dimana semuanya terasa nyaman.

Memang rasanya sekarang belum maksimal. Tapi semakin hari semakin menemukan “arah” yang mengubah pandangan saya tentang banyak hal. Terutama apa yang sungguh penting dalam hidup.

Yosh. Harus tetap semangat.

Bagaimana liburanmu? Apakah kamu tertarik tema minimalis?

signature.png

Gambar ; apartementtheraphy.com, wikipedia.com, nextshark.com, medium.com, jdbn.fr, pinterest.co.uk, theminimalist.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.